Portal Media Kota Banjar – Kasus dugaan keracunan makanan bergizi (MBG) yang menimpa para pelajar di Kota Banjar berangsur membaik. Dari total siswa yang sempat dilarikan ke rumah sakit akibat gejala mual, pusing, hingga muntah, sebanyak 72 orang kini telah diizinkan pulang karena kondisi kesehatan mereka semakin stabil.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ini terjadi pada Kamis (11/9/2025) usai sejumlah sekolah di Kota Banjar menerima distribusi menu MBG. Tak lama setelah menyantap hidangan, puluhan siswa mengeluhkan rasa tidak enak badan. Sebagian besar merasakan pusing, sakit perut, hingga muntah-muntah.
Pihak sekolah segera mengambil tindakan cepat dengan menghubungi tenaga medis dan membawa siswa yang mengalami gejala ke puskesmas maupun rumah sakit terdekat.
Penanganan Cepat di Fasilitas Kesehatan
Direktur RSUD Kota Banjar, dr. Rina Amelia, mengatakan bahwa sejak pertama kali menerima pasien, pihaknya langsung memberikan penanganan medis berupa observasi, cairan infus, dan obat penurun gejala.
“Hari ini, 72 siswa sudah pulang setelah dinyatakan sehat. Mereka hanya mengalami gejala ringan hingga sedang, dan kini kondisinya kembali normal,” ujarnya.
Meski demikian, masih ada beberapa siswa yang masih dalam observasi intensif. Namun pihak rumah sakit memastikan tidak ada kondisi kritis yang membahayakan nyawa.

Baca juga: BKPSDM Kota Banjar Terima Usulan Rotasi Kepala Puskesmas Banjar
Pemerintah Lakukan Investigasi
Pemerintah Kota Banjar melalui Dinas Kesehatan setempat telah mengambil sampel makanan MBG untuk diteliti di laboratorium. Hasil pemeriksaan diharapkan dapat memastikan apakah benar makanan tersebut menjadi penyebab keracunan massal.
“Kami masih menunggu hasil laboratorium. Jika memang terbukti ada kontaminasi atau kelalaian penyedia makanan, tentu akan ada langkah tegas,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar, dr. Herlina.
Orang Tua Khawatir, Sekolah Minta Kepastian
Sejumlah orang tua siswa mengaku khawatir dengan kejadian ini. Mereka mendesak pemerintah memberikan jaminan keamanan pangan sebelum kembali melanjutkan distribusi MBG di sekolah.
“Kami ingin anak-anak sehat, bukan malah sakit setelah makan. Pemerintah harus pastikan kualitas makanan aman,” ujar Dede, salah satu orang tua siswa.
Pihak sekolah juga meminta agar proses evaluasi program MBG dilakukan menyeluruh, sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.
Evaluasi Program MBG
Program MBG sejatinya bertujuan baik, yakni memberikan tambahan gizi untuk mendukung tumbuh kembang anak. Namun, kasus keracunan yang terjadi di Banjar menambah deretan peristiwa serupa di beberapa daerah sebelumnya.
Pengamat kesehatan masyarakat menilai, persoalan ini sering kali muncul karena lemahnya pengawasan terhadap proses produksi dan distribusi makanan. “Pemerintah perlu memperkuat standar higiene, sertifikasi dapur, serta pengawasan berlapis,” ujar seorang akademisi kesehatan masyarakat.
Penutup
Meski sebagian besar pelajar sudah pulih, kasus ini menjadi alarm penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi tata kelola MBG secara menyeluruh. Masyarakat menunggu hasil investigasi laboratorium yang akan menentukan langkah lanjutan, termasuk sanksi bagi pihak yang lalai.
Dengan pulangnya 72 siswa dari rumah sakit, diharapkan kondisi dapat segera kembali normal, dan ke depan distribusi makanan bergizi benar-benar aman serta sesuai tujuan awalnya: menyehatkan, bukan mencelakakan.





