Portal Media Kota Banjar – Kearifan lokal berpadu dengan inovasi, itulah yang kini ditunjukkan oleh sejumlah warga Kota Banjar yang sukses melakukan budidaya ikan bebeong, ikan khas Sungai Citanduy. Ikan yang dulunya hanya mengandalkan tangkapan alam ini kini berhasil dibudidayakan secara berkelanjutan, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi upaya pelestarian ikan endemik yang mulai sulit ditemukan di habitat aslinya.
Ikan Bebeong, Kekayaan Lokal Sungai Citanduy
Ikan bebeong dikenal sebagai salah satu ikan air tawar khas Sungai Citanduy yang memiliki cita rasa khas dan digemari masyarakat. Selama ini, bebeong lebih banyak diperoleh melalui penangkapan langsung di sungai, sehingga populasinya sempat menurun akibat tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.
Melihat kondisi tersebut, warga Kota Banjar berinisiatif mengembangkan budidaya ikan bebeong sebagai solusi menjaga kelestarian sekaligus meningkatkan nilai ekonomi.
Berawal dari Percobaan Skala Kecil
Budidaya ikan bebeong ini bermula dari percobaan sederhana yang dilakukan warga dengan memanfaatkan kolam terpal dan kolam tanah di pekarangan rumah. Prosesnya tidak instan, karena ikan bebeong dikenal cukup sensitif terhadap perubahan lingkungan.
“Awalnya banyak yang gagal, tapi kami terus belajar dan mencoba,” ungkap salah satu pembudidaya.
Melalui proses uji coba dan pendampingan, warga mulai menemukan pola budidaya yang sesuai dengan karakter ikan bebeong.

Baca juga: Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kota Banjar Dinilai Kurang Inklusif
Proses Pemilihan Indukan hingga Penetasan
Langkah awal dalam budidaya ikan bebeong adalah pemilihan indukan berkualitas yang berasal dari Sungai Citanduy. Indukan dipilih berdasarkan ukuran, kesehatan, dan keaktifan gerak.
Indukan kemudian ditempatkan di kolam khusus pemijahan dengan kualitas air yang dijaga mendekati kondisi alami sungai. Setelah proses pemijahan berhasil, telur ikan ditetaskan secara terkontrol hingga menjadi larva.
Perawatan larva dilakukan secara intensif agar tingkat kelangsungan hidup tetap tinggi.
Perawatan Benih dan Pembesaran
Setelah berusia beberapa minggu, benih ikan bebeong dipindahkan ke kolam pembesaran. Pakan yang digunakan disesuaikan dengan umur ikan, mulai dari pakan alami hingga pakan buatan berprotein seimbang.
Pengelolaan kualitas air menjadi kunci utama keberhasilan budidaya. Air kolam rutin diganti dan dijaga kebersihannya untuk mencegah penyakit.
“Kalau airnya bersih dan pakan cukup, pertumbuhannya bagus,” kata pembudidaya lainnya.
Panen dan Peluang Pasar
Ikan bebeong hasil budidaya dapat dipanen setelah mencapai ukuran konsumsi. Hasil panen ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi karena ikan bebeong masih tergolong langka di pasaran.
Selain dijual dalam kondisi segar, ikan bebeong juga mulai diolah menjadi berbagai produk kuliner khas, seperti pepes dan gorengan, yang diminati masyarakat lokal maupun wisatawan.
Budidaya ini pun membuka peluang usaha baru, terutama bagi keluarga di sekitar bantaran Sungai Citanduy.
Dukungan dan Harapan Ke Depan
Keberhasilan warga Kota Banjar dalam membudidayakan ikan bebeong mendapat perhatian dari berbagai pihak. Pemerintah daerah dan penyuluh perikanan diharapkan dapat memberikan dukungan berupa pelatihan lanjutan, bantuan sarana, serta pengembangan pasar.
Budidaya ikan bebeong dinilai tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi langkah nyata pelestarian ikan endemik Sungai Citanduy.
Pelestarian Alam Berbasis Masyarakat
Melalui budidaya ikan bebeong, warga Kota Banjar membuktikan bahwa pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan. Upaya ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola potensi lokal secara berkelanjutan.
Dengan terus dikembangkan, ikan bebeong bukan hanya menjadi ikon Sungai Citanduy, tetapi juga simbol keberhasilan masyarakat dalam menjaga alam sekaligus membangun ekonomi kerakyatan.





