,

Peringatan Hari AIDS Sedunia di Kota Banjar Dinilai Kurang Inklusif

oleh -110 Dilihat
oleh

Portal Media Kota Banjar – Peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) yang digelar di Kota Banjar menuai sorotan dari sejumlah pihak. Kegiatan yang seharusnya menjadi momentum edukasi, solidaritas, dan penguatan komitmen bersama dalam pencegahan HIV/AIDS tersebut dinilai belum sepenuhnya inklusif, khususnya dalam melibatkan kelompok terdampak dan komunitas rentan.

Sejumlah pegiat kesehatan dan pemerhati isu HIV/AIDS menilai peringatan tahun ini masih didominasi oleh kegiatan seremonial, sementara ruang partisipasi bagi kelompok kunci dan penyintas HIV/AIDS dinilai terbatas.

Minim Keterlibatan Kelompok Terdampak

Salah satu catatan utama dalam peringatan Hari AIDS Sedunia di Kota Banjar adalah minimnya keterlibatan langsung orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta komunitas yang selama ini berada di garis depan pencegahan dan pendampingan.

Padahal, kelompok terdampak dinilai memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan pencegahan yang lebih membumi dan mengurangi stigma di tengah masyarakat.

“Peringatan HAS seharusnya menjadi ruang aman bagi semua, termasuk ODHA, untuk bersuara dan berbagi pengalaman,” ujar salah seorang aktivis kesehatan.

Fokus Seremonial Dinilai Kurang Menyentuh Substansi

Kegiatan peringatan yang diisi dengan upacara, sambutan, dan simbolisasi dinilai belum cukup menyentuh substansi persoalan HIV/AIDS di Kota Banjar. Edukasi publik yang komprehensif, diskusi terbuka, serta kampanye penghapusan stigma dianggap masih perlu diperkuat.

Beberapa pihak menilai pesan-pesan yang disampaikan belum sepenuhnya menjangkau kelompok muda dan masyarakat umum yang membutuhkan informasi akurat mengenai pencegahan, penularan, dan pengobatan HIV/AIDS.

Hari AIDS Sedunia
Hari AIDS Sedunia

Baca juga: Satpol PP Tertibkan Reklame Tak Sesuai Aturan di Kota Banjar

Stigma dan Diskriminasi Masih Jadi Tantangan

Kurangnya inklusivitas dalam peringatan Hari AIDS Sedunia juga dikhawatirkan dapat memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Stigma sosial masih menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, termasuk rendahnya kesadaran untuk melakukan tes HIV secara sukarela.

Pemerhati kesehatan menekankan bahwa pendekatan yang inklusif dan partisipatif sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi ODHA agar tidak takut mengakses layanan kesehatan.

Harapan Kolaborasi yang Lebih Luas

Sejumlah pihak mendorong agar ke depan, peringatan Hari AIDS Sedunia di Kota Banjar melibatkan lebih banyak unsur, mulai dari komunitas ODHA, organisasi masyarakat sipil, kelompok pemuda, tokoh agama, hingga sektor pendidikan.

Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memperkuat pesan bahwa HIV/AIDS bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu sosial dan kemanusiaan.

“Semakin banyak pihak yang dilibatkan, semakin kuat pesan solidaritas dan kepedulian yang disampaikan,” kata salah seorang pegiat.

Respons Pemerintah Daerah

Menanggapi sorotan tersebut, pemerintah daerah menyatakan terbuka terhadap masukan dan kritik yang disampaikan masyarakat. Pemkot Banjar menyebut peringatan Hari AIDS Sedunia merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS, dan evaluasi akan dilakukan untuk perbaikan ke depan.

Pemerintah daerah juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan layanan kesehatan, edukasi publik, serta kerja sama dengan berbagai pihak dalam menangani HIV/AIDS secara komprehensif.

Momentum Perbaikan ke Depan

Peringatan Hari AIDS Sedunia diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar dimaknai sebagai momentum refleksi dan perbaikan. Inklusivitas, partisipasi bermakna, dan penghapusan stigma menjadi kunci dalam menciptakan respons yang efektif terhadap HIV/AIDS.

Dengan pendekatan yang lebih terbuka dan kolaboratif, Kota Banjar diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan HIV/AIDS serta memastikan tidak ada satu pun kelompok masyarakat yang tertinggal atau terpinggirkan.

Shoppe Mall