Portal Media Kota Banjar — Desa Kujangsari di Kota Banjar kembali mencuri perhatian setelah meluncurkan inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif. Program yang digagas pemerintah desa bersama kelompok pengelola sampah ini dinilai mampu menjawab dua persoalan sekaligus: masalah sampah dan kebutuhan energi.
Mengatasi Penumpukan Sampah Plastik
Dalam beberapa tahun terakhir, volume sampah plastik di Desa Kujangsari terus meningkat. Kondisi ini mendorong pemerintah desa mencari solusi berkelanjutan yang tidak hanya menekan jumlah sampah, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kepala Desa Kujangsari menjelaskan bahwa inovasi ini lahir dari keinginan kuat warga untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menciptakan peluang usaha baru.
“Setiap hari plastik menumpuk, sementara nilai ekonominya sebenarnya besar. Dengan teknologi sederhana, kita bisa mengubahnya menjadi bahan bakar yang dapat dimanfaatkan,” ujarnya.
Proses Pirolisis Hasilkan BBM Alternatif
Program ini menggunakan metode pirolisis, yaitu teknik pemanasan sampah plastik dalam ruang tertutup tanpa oksigen sehingga menghasilkan cairan mirip bensin dan solar. Mesin pirolisis yang digunakan merupakan rakitan lokal, mudah dioperasikan, dan hemat energi.
Satu kali proses pengolahan sekitar tiga jam dapat menghasilkan 1–2 liter BBM dari 1 kilogram sampah plastik, tergantung jenis plastiknya. Hasil BBM ini kemudian disaring untuk memastikan kejernihan dan kualitas.
“BBM yang dihasilkan sudah kami uji untuk menyalakan genset, dan hasilnya bagus. Warga sangat antusias karena bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan kecil di lingkungan,” kata ketua kelompok pengelola.

Baca juga: Pengadaan Mobil Dinas Pemkot Banjar Ditiadakan, Anggaran Infrastruktur Masih Terseok
Berpotensi Jadi Sumber Ekonomi Baru
Selain mengurangi sampah, program ini membuka peluang ekonomi. Warga mulai mengumpulkan plastik dari rumah ke rumah untuk dijual ke pengelola, sementara kelompok pengolah menjual BBM hasil produksi dengan harga terjangkau untuk keperluan peralatan mesin ringan.
Pemerintah desa bahkan telah menyiapkan rencana pembentukan BUMDes energi agar program ini dapat beroperasi lebih profesional dan terukur.
“Kalau ini berjalan baik, kita ingin bangun unit usaha di bawah BUMDes agar produksinya lebih besar dan manfaatnya dirasakan masyarakat luas,” jelas Kepala Desa.
Dukungan Pemerintah Kota dan Harapan Pengembangan
Inovasi Desa Kujangsari mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Banjar karena dianggap salah satu program paling progresif dalam pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjar menyatakan siap memberikan pendampingan teknis agar kualitas BBM hasil olahan memenuhi standar keselamatan.
“Inovasi ini harus didorong. Selain mengurangi sampah, ini juga memberikan edukasi tentang ekonomi sirkular,” ujar perwakilan DLH.
Warga: Dari Masalah Menjadi Peluang
Sejumlah warga mengaku program ini membawa perubahan besar dalam pola pikir masyarakat mengenai sampah. Yang dulu dianggap tidak bernilai, kini menjadi sumber energi yang membantu kebutuhan sehari-hari.
“Sampah plastik sekarang tidak lagi kami buang sembarangan. Kami kumpulkan untuk dijual. Lumayan, ada tambahan pendapatan,” kata salah seorang warga.
Menuju Desa Mandiri Energi
Dengan berjalan konsisten, Desa Kujangsari berpeluang menjadi perintis desa mandiri energi di Kota Banjar. Pemerintah desa berharap teknologi ini bisa terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi desa lain.
“Yang penting semangat gotong royong tetap dijaga. Inovasi tidak akan berkembang tanpa dukungan masyarakat,” tutup Kepala Desa.





