Portal Media Kota Banjar — Dalam upaya menekan penyebaran HIV/AIDS, Pemerintah Kota Banjar melalui Dinas Kesehatan menggelar kegiatan tes VCT (Voluntary Counseling and Testing) bagi kelompok rentan di sejumlah wilayah, Rabu (29/10/2025). Program ini menjadi bagian dari strategi deteksi dini sekaligus edukasi masyarakat untuk mencegah meluasnya kasus HIV di Banjar.
Tes VCT Sebagai Langkah Antisipatif
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar, dr. Heni Setiawati, menjelaskan bahwa tes VCT merupakan layanan sukarela yang mencakup konseling dan pemeriksaan darah guna mengetahui status HIV seseorang. Langkah ini, kata dia, sangat penting bagi kelompok rentan seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, sopir lintas daerah, serta remaja dengan perilaku berisiko.
“Dengan VCT, kita bisa mengetahui kondisi lebih awal. Jika ditemukan hasil reaktif, maka penanganan medis dapat segera dilakukan agar penderita tetap bisa hidup sehat dan mencegah penularan lebih luas,” ujar Heni.
Ia menambahkan, kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap di berbagai titik seperti Puskesmas Langensari, Puskesmas Banjar, dan Puskesmas Purwaharja, dengan target 500 peserta hingga akhir tahun 2025.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD), RSUD Banjar, Dinas Sosial, hingga organisasi masyarakat dan LSM yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi.
Sekretaris KPAD Banjar, Rudi Santoso, mengungkapkan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam memerangi HIV/AIDS. Menurutnya, kasus HIV tidak bisa ditangani hanya dari sisi medis, tetapi juga memerlukan pendekatan sosial dan edukatif.
“Banyak masyarakat masih takut untuk melakukan tes karena stigma negatif. Kami ingin mengubah pola pikir itu. Melalui VCT, masyarakat bisa memahami bahwa mengetahui status diri bukan aib, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap kesehatan pribadi dan keluarga,” jelas Rudi.

Baca juga: Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda Ke-97 Tingkat Kota Banjar Tahun 2025
Edukasi dan Konseling Jadi Prioritas
Sebelum pemeriksaan darah dilakukan, peserta terlebih dahulu mengikuti sesi konseling pra-tes yang dipandu oleh tenaga kesehatan dan konselor profesional. Dalam sesi ini, peserta diberikan informasi mengenai HIV, cara penularan, serta manfaat mengetahui status kesehatan sejak dini.
“Setelah hasil keluar, ada juga konseling pasca-tes untuk memberikan pendampingan bagi mereka yang hasilnya reaktif agar tidak panik dan segera menjalani pengobatan di fasilitas kesehatan yang ditunjuk,” tutur dr. Heni.
Pemerintah juga menyiapkan program pendampingan psikologis dan pengobatan antiretroviral (ARV) gratis bagi penderita HIV/AIDS, guna memastikan mereka tetap dapat menjalani hidup secara produktif.
Angka Kasus HIV di Banjar Cenderung Meningkat
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banjar, hingga triwulan ketiga tahun 2025 tercatat 82 kasus HIV/AIDS aktif, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 65 kasus. Sebagian besar penderita berusia produktif, yakni antara 20–40 tahun.
“Lonjakan kasus ini menunjukkan bahwa kita harus semakin gencar melakukan deteksi dini dan edukasi. Masih banyak masyarakat yang tidak sadar sudah terinfeksi karena tidak memiliki gejala pada tahap awal,” kata Heni.
Respons Positif dari Peserta dan Masyarakat
Kegiatan tes VCT ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satu peserta, Ayu (29), mengaku awalnya ragu mengikuti tes karena takut akan hasilnya, namun setelah mendapatkan konseling ia merasa lebih tenang.
“Saya pikir kalau hasilnya reaktif itu menakutkan, tapi ternyata kita bisa diobati dan tetap sehat. Saya senang pemerintah menyediakan layanan ini gratis,” ujar Ayu.
Hal senada disampaikan oleh Dedi (35), seorang sopir antarprovinsi. Ia menilai program VCT penting untuk memberikan kepastian dan rasa aman bagi mereka yang sering bepergian jauh dan memiliki mobilitas tinggi.
“Kami sering tidur di jalan dan bertemu banyak orang. Dengan tes ini, setidaknya saya tahu kondisi diri sendiri dan bisa menjaga keluarga,” katanya.
Komitmen Pemerintah Lanjutkan Program
Wali Kota Banjar, Ade Uu Sukaesih, dalam keterangannya menyampaikan apresiasi atas langkah Dinas Kesehatan dan seluruh pihak yang telah berperan aktif dalam program VCT. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus memperluas jangkauan layanan kesehatan, termasuk edukasi HIV/AIDS di sekolah dan tempat kerja.
“Upaya deteksi dini ini harus dilakukan terus-menerus. Pemerintah berkomitmen melindungi generasi muda dari ancaman HIV/AIDS melalui edukasi, pelayanan kesehatan, dan penghapusan stigma sosial,” tutur Ade Uu.
Ia juga berharap seluruh masyarakat berani melakukan tes secara sukarela. “Mengetahui status kesehatan bukan hal yang memalukan, tapi langkah bijak untuk menjaga diri dan orang lain,” pungkasnya.





